![]() |
| via wikimedia.org |
Contoh hewan yang berburu mangsa menggunakan ekolokasi adalah kelelawar, lumba-lumba, ikan paus, dan celurut. Karena Daniel Kish dapat menggunakan ekolokasi, dia sering dijuluki sebagai manusia kelelawar (Batman). Dia mengenali benda dengan cara membuat decakan dengan lidahnya. Bunyi dihasilkan sehingga dia bisa mengetahui keberadaan benda lewat perbedaan pantulan bunyi yang terjadi.
Berdasarkan penemuan di tahun 2014, konsep ekolokasi sudah diketahui sekitar 200 tahun yang lalu, namun baru dipelajari di tahun 1950-an. Daniel Kish adalah orang yang berhasil mengembangkan ekolokasi lebih lanjut. Sebelumnya seorang petualang bernama James Holman (1786-1857) tercatat dalam sejarah sebagai penyandang tunanetra pertama yang menggunakan ekolokasi untuk melihat (dia memanfaatkan suara tongkatnya.)
Sebenarnya setiap orang bisa menggunakan ekolokasi. Menurut sebuah penemuan ilmiah di London tahun 2013, manusia terbiasa menggunakan indera penglihatan mereka yaitu mata untuk mengidentifikasi objek. Sehingga, mereka tidak terbiasa menggunakan telinganya sebagai alat navigasi, bahkan cenderung tidak pernah. Padahal sejatinya mereka mampu mengetahui benda-benda sekitar hanya dengan menggunakan suara.
Ekolokasi adalah kemampuan umum yang dianugerahkan kepada manusia tapi manusia tidak pernah melatih dirinya untuk terbiasa menggunakan.
![]() |
| Daniel Kish dalam suatu pertemuan di PopTech 2011 (via flickr.com) |
Kembali ke kisah bagaimana Daniel Kish bisa mengembangkan ekolokasi ini. Dia lahir di Amerika Serikat, tepatnya di Montebello, California pada tahun 1966. Di usianya yang baru beranjak tujuh bulan, mata kirinya terpaksa diangkat akibat penyakit kanker mata (retinoblastoma) yang menggerogotinya. Begitu juga mata kanannya di usia ke-13 bulan.
Alhasil, Kish tidak bisa melihat lagi seperti biasanya. Namun dia selalu beradaptasi dengan keadaannya dan mengembangkan ekolokasi sejak usia yang masih muda.
Hingga kini dia mampu mengenali benda di sekitarnya bahkan bisa jalan-jalan (tentu masih menggunakan tongkat), bersepeda, hiking, dan melakukan aktivitas lain seperti halnya orang yang dapat melihat menggunakan matanya.
![]() |
| Daniel Kish bersepeda (via wikimedia.org) |
Dia juga pernah berbagi kisah inspirasi di TED Talk, sebuah organisasi non-profit yang mengumpulkan orang-orang inspiratif untuk dibagikan kisahnya. Saat itu Kish menceritakan kisahnya tentang apa yang dia rasakan dan cara menggunakan ekolokasi.
Di situ dia mengaku bahwa telinganya sangat peka bahkan bisa mendengar suara hembusan napas penonton, suara orang mengunyah, bahkan suara bisik-bisik sekalipun. Dia bisa mendengarnya dengan jelas. Berikut saya sertakan videonya saat Kish membawakan pengalaman di sebuah acara TED Talk:
Video lain tentang dirinya melakukan navigasi juga banyak ditemui di YouTube. Dia kini masih sehat di usia 51 tahun. Ini video Daniel Kish sedang menaiki sepeda:
Bahkan karena peduli dengan orang-orang buta di seluruh dunia, dia membangun yayasan nirlaba yang bertujuan memberikan peluang kepada mereka untuk bisa melihat menggunakan ekolokasi. Nama yayasannya adalah World Access for Blind dan sudah membantu banyak tunanetra di 44 negara.
Fenomena ini bukan sebuah keajaiban. Daniel Kish hanya berhasil mengasah kemampuan ekolokasinya sejak dini. Dia juga bukan satu-satunya orang yang dapat menggunakan ekolokasi. Sejumlah penyandang tunanetra seperti Ben Underwood, Tom De Witte, Dr. Lawrence Scadden, Lucas Murray, Kevin Warwick, Juan Ruiz juga mengembangkan kemampuan serupa, beberapa di antaranya dilatih oleh Daniel Kish.
Kisah ini bukanlah fiksi melainkan fakta. Ketika manusia memiliki pengalaman di satu bidang, dia bisa menjadi master di bidang tersebut. Itu adalah kemampuan dasar manusia. Begitu juga dengan Kish. Sejak usia dini sudah beradaptasi di lingkungannya, mencoba untuk melihat dengan cara lain, dan pada akhirnya berhasil.
Video lain tentang dirinya melakukan navigasi juga banyak ditemui di YouTube. Dia kini masih sehat di usia 51 tahun. Ini video Daniel Kish sedang menaiki sepeda:
Bahkan karena peduli dengan orang-orang buta di seluruh dunia, dia membangun yayasan nirlaba yang bertujuan memberikan peluang kepada mereka untuk bisa melihat menggunakan ekolokasi. Nama yayasannya adalah World Access for Blind dan sudah membantu banyak tunanetra di 44 negara.
Fenomena ini bukan sebuah keajaiban. Daniel Kish hanya berhasil mengasah kemampuan ekolokasinya sejak dini. Dia juga bukan satu-satunya orang yang dapat menggunakan ekolokasi. Sejumlah penyandang tunanetra seperti Ben Underwood, Tom De Witte, Dr. Lawrence Scadden, Lucas Murray, Kevin Warwick, Juan Ruiz juga mengembangkan kemampuan serupa, beberapa di antaranya dilatih oleh Daniel Kish.
Kisah ini bukanlah fiksi melainkan fakta. Ketika manusia memiliki pengalaman di satu bidang, dia bisa menjadi master di bidang tersebut. Itu adalah kemampuan dasar manusia. Begitu juga dengan Kish. Sejak usia dini sudah beradaptasi di lingkungannya, mencoba untuk melihat dengan cara lain, dan pada akhirnya berhasil.






